Menu ✖

Mode Gelap
Setelah Digdaya Persuratan, PBNU Luncurkan Digdaya Kepengurusan Inisiasi Fatayat 5.0, Fatayat NU Kota Bandung Tancapkan Tonggak Sejarah Baru Tingkatkan Kepedulian Masyarakat, LAZISNU Kota Bandung Distribusikan Zakat, Infaq, dan Sedekah Jelang Idul Fitri Masjid Raya Jadi Lokasi Gelaran Ramadhan Penuh Cinta 1446 H PCNU Kota Bandung; Dihadiri Walikota hingga Waketum PBNU PCNU Kota Bandung Bersinergi dengan Dinas Koperasi dan UKM Bentuk Koperasi

Opini · 22 Okt 2026 17:47 WIB

Dari Seremoni ke Substansi: Kritik atas Hari Santri Nasional yang Kehilangan Ruh Keilmuan dan Pemberdayaan Ekonomi


Dari Seremoni ke Substansi: Kritik atas Hari Santri Nasional yang Kehilangan Ruh Keilmuan dan Pemberdayaan Ekonomi Perbesar


Pendahuluan

Setiap tanggal 22 Oktober, Indonesia memperingati Hari Santri Nasional. Penetapan hari ini melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 bukan tanpa alasan. Tanggal tersebut merujuk pada Resolusi Jihad yang dicetuskan KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945, sebuah seruan yang menggerakkan santri dan ulama untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman kolonial . Momentum ini sejatinya adalah bentuk penghargaan negara atas kontribusi santri dalam sejarah bangsa, sekaligus pengingat akan tanggung jawab mereka di masa kini dan masa depan.

Namun, setelah satu dekade berlalu, peringatan Hari Santri Nasional menghadapi kritik mendasar. Alih-alih menjadi momentum penguatan kapasitas intelektual dan ekonomi santri, peringatan ini kerap terjebak pada seremoni yang serba simbolis. Apel, pawai, dan unggahan media sosial seakan menjadi ukuran keberhasilan peringatan, sementara esensi santri sebagai penuntut ilmu dan agen pemberdayaan umat justru terpinggirkan. Lebih problematis, Hari Santri cenderung menjadi ajang validasi identitas—bahwa seseorang pernah mondok—tanpa diikuti komitmen untuk mengisi hari besar tersebut dengan kegiatan yang benar-benar mencerminkan ciri khas santri: kegigihan dalam menuntut ilmu dan kesiapan menghadapi tantangan zaman, terutama di bidang ekonomi.

Seremoni Tanpa Substansi

Kritik terhadap peringatan Hari Santri yang terlalu seremonial bukanlah tanpa dasar. Di berbagai daerah, peringatan ini diwarnai dengan apel, gerak jalan, festival budaya, hingga makan bersama . Kegiatan-kegiatan tersebut memang memiliki nilai silaturahmi dan kebersamaan. Namun, ketika menjadi satu-satunya bentuk peringatan, ia kehilangan kaitan dengan hakikat santri sebagai pembelajar.

Ironisnya, kritik justru muncul ketika sebuah daerah dianggap tidak menggelar seremoni. Kritik semacam ini menunjukkan bahwa ukuran keberpihakan kepada santri masih diletakkan pada ada atau tidaknya acara simbolik, bukan pada sejauh mana kebijakan pendidikan dan ekonomi benar-benar memberdayakan mereka.

Padahal, sejarah penetapan Hari Santri sendiri menegaskan bahwa peringatan ini bukan sekadar simbol. Ia lahir dari perjuangan nyata, dari darah dan air mata santri yang bergerilya mempertahankan kemerdekaan. Jika generasi sekarang memperingatinya hanya dengan upacara dan unggahan status, maka ada jarak yang semakin lebar antara semangat sejarah dan praktik masa kini. Santri tempo dulu berjuang dengan ilmu dan keberanian; santri hari ini seharusnya berjuang dengan ilmu pula—bukan sekadar dengan atribut dan simbol.

Lupa Esensi Keilmuan

Ciri khas santri yang paling mendasar adalah kedekatannya dengan ilmu. Di pesantren, santri menghabiskan bertahun-tahun untuk mempelajari kitab kuning, menghafal Al-Qur’an, mendiskusikan fiqih dan tauhid, serta melatih diri dalam tradisi ilmiah seperti syawir atau bahtsul masail . Tradisi ini bukan warisan yang bisa diabaikan. Ia adalah fondasi yang membentuk cara berpikir santri: kritis, mendalam, dan berakar pada nilai-nilai keislaman.

Namun, dalam peringatan Hari Santri Nasional, kegiatan-kegiatan yang mencerminkan tradisi keilmuan ini justru jarang menjadi pusat acara. Lomba karya tulis ilmiah, diskusi kitab kuning terbuka, bedah buku, atau seminar pemikiran Islam nyaris tidak terdengar sebagai agenda utama. Yang lebih menonjol adalah kegiatan yang bersifat hiburan atau seremonial. Jika Hari Santri ingin bermakna, maka kegiatan keilmuan harus dikembalikan ke jantung peringatan. Santri harus dirayakan bukan karena mereka pernah mondok, tetapi karena mereka adalah penjaga tradisi ilmu yang hidup.

Ketiadaan penekanan pada keilmuan ini berbahaya. Ia bisa memperkuat stigma bahwa santri hanya kuat dalam urusan ritual, tetapi lemah dalam wacana intelektual. Padahal, sejarah membuktikan sebaliknya. Para pendiri bangsa yang berlatar pesantren—dari KH Hasyim Asy’ari hingga KH Ahmad Dahlan—adalah pemikir yang menguasai ilmu agama sekaligus peka terhadap realitas sosial . Hari Santri seharusnya menjadi pengingat bahwa tradisi intelektual pesantren perlu terus dirawat dan dikembangkan, bukan sekadar dikenang.

Tantangan Zaman: Pemberdayaan Ekonomi Santri

Jika keilmuan adalah ruh, maka pemberdayaan ekonomi adalah tubuh yang harus berdiri tegak. Santri tidak bisa hanya pandai mengaji kitab sambil tetap bergantung secara ekonomi. Tantangan zaman menuntut santri untuk mandiri, kreatif, dan mampu bersaing di pasar kerja maupun dunia usaha.

Sayangnya, peringatan Hari Santri Nasional belum secara serius menjadikan pemberdayaan ekonomi sebagai agenda utama. Padahal, potensi ekonomi pesantren sangat besar. Indonesia memiliki ribuan pesantren dengan jutaan santri, jaringan alumni yang luas, serta kepercayaan masyarakat yang tinggi . Jika potensi ini dioptimalkan, pesantren bisa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi rakyat, bukan sekadar lembaga pendidikan agama.

Hari Santri Nasional seharusnya menjadi momen untuk meluncurkan atau memperkuat program-program semacam ini secara nasional. Bayangkan jika setiap peringatan 22 Oktober, bukan hanya apel yang digelar, tetapi juga pameran produk santri, pelatihan kewirausahaan, pendampingan koperasi syariah, atau kompetisi ide bisnis berbasis pesantren. Dengan begitu, Hari Santri tidak hanya merayakan identitas, tetapi juga membangun kemandirian.

Menuju Hari Santri yang Bermakna

Kritik ini bukan untuk meniadakan peringatan Hari Santri Nasional. Justru sebaliknya, kritik ini lahir dari keinginan agar hari besar tersebut benar-benar bermakna. Ada beberapa langkah yang bisa diambil untuk mengembalikan esensi Hari Santri.

Pertama, penyelenggara peringatan—baik pemerintah maupun organisasi pesantren—perlu menggeser fokus dari seremoni ke substansi. Apel boleh tetap ada, tetapi harus diikuti dengan agenda keilmuan yang substantif: diskusi kitab, seminar pemikiran, atau lokakarya penelitian bagi santri. Kedua, pemberdayaan ekonomi harus menjadi bagian tidak terpisahkan dari peringatan. Setiap daerah bisa menjadikan Hari Santri sebagai momentum peluncuran program ekonomi pesantren, mulai dari koperasi syariah hingga digitalisasi usaha santri. Ketiga, peringatan Hari Santri perlu melibatkan santri secara aktif, bukan sekadar menjadikan mereka peserta upacara. Santri harus diberi ruang untuk menampilkan karya, gagasan, dan inovasi mereka.

Kesimpulan

Hari Santri Nasional adalah warisan sejarah yang mahal. Ia lahir dari perjuangan nyata dan pengorbanan besar. Menjadikannya sekadar acara seremoni tahunan adalah bentuk pengkhianatan terhadap semangat para pendahulu. Santri yang sejati adalah pembelajar yang tekun dan pejuang yang mandiri. Jika Hari Santri ingin tetap relevan, ia harus kembali ke akar: ilmu dan pemberdayaan. Seremoni boleh ada, tetapi jangan sampai menutupi esensi. Validasi identitas boleh saja, tetapi jangan sampai menggantikan komitmen untuk terus belajar dan berdaya. Pada akhirnya, Hari Santri bukan tentang siapa yang pernah mondok, melainkan tentang siapa yang terus menuntut ilmu dan memberi manfaat bagi umat.

Selamat Hari Santri Nasional 2026
“Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”

Artikel ini telah dibaca 28 kali

Fahmi TR badge-check

Penulis

5 2 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Baca Lainnya

Syukur: Solusi Kemunduran Ilmu Pengetahuan Umat Islam

14 Mei 2025 - 18:39 WIB

Kurban: Antara Kepekaan Sosial dan Manifestasi Ketakwaan

13 Mei 2025 - 16:38 WIB

Imam Al Ghozali dan Takfiri: Solusi dari Pandangan Takfiri Menurut Imam Al Ghozali

11 Mei 2025 - 14:29 WIB

Warna Tradisi Idul Fitri

8 April 2024 - 22:33 WIB

Rumus “Basi” Para Leluhur, Memaknai Arti Sebuah Kepemimpinan

23 Maret 2024 - 22:46 WIB

Trending di Opini
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x