Menu

Mode Gelap
Setelah Digdaya Persuratan, PBNU Luncurkan Digdaya Kepengurusan Inisiasi Fatayat 5.0, Fatayat NU Kota Bandung Tancapkan Tonggak Sejarah Baru Tingkatkan Kepedulian Masyarakat, LAZISNU Kota Bandung Distribusikan Zakat, Infaq, dan Sedekah Jelang Idul Fitri Masjid Raya Jadi Lokasi Gelaran Ramadhan Penuh Cinta 1446 H PCNU Kota Bandung; Dihadiri Walikota hingga Waketum PBNU PCNU Kota Bandung Bersinergi dengan Dinas Koperasi dan UKM Bentuk Koperasi

Opini · 23 Mar 2024 22:46 WIB

Rumus “Basi” Para Leluhur, Memaknai Arti Sebuah Kepemimpinan


 Rumus “Basi” Para Leluhur,  Memaknai Arti Sebuah Kepemimpinan Perbesar

Orang Sunda memiliki falsafah, “Kitu nya kitu, urang ulah kitu”. Wong Jowo ada “Ngono ya ngono, ojo ngono”. Begitu ya begitu, jangan begitu (kita).

Ini falsafah bagimana harusnya kita bersikap. Toleran, memahami setiap sifat karakter manusia. Ada yang diam, ada yang culas, ada yang ahli kritik, ada yang selalu melihat keburukan, ada juga yang melihat prestasi atau buah karya. Semua manusia itu unik dan istimewa. Siapa pun yang jadi “pemimpin” seharusnya memiliki cara pandang ini. Agar “laukna beunang, caina herang”. Ikan kita dapat tanpa memperkeruh airnya.

Kesulitannya adalah EGO DIRI. Harga diri yang diletakkan dengan standar tinggi. Tak luluh dengan “main target” yang akan dicapai. Ketakutan disebut sebagai pemimpin lembek juga bisa melahirkan sikap “mau menang sendiri”. Sebab itu, mengalah adalah jalan terbaik. Kau sebagai ayah.. Akan dihadapkan dengan sifat karakter anak-anak yang berbeda. Istri yang terus menerus harus dimengerti. Kapan atuh saya yang harus difahami mereka? Ini masih di skup keluarga. Belum di masyarakat. Di paguyuban atau Ormas. Jangan ada fikiran seperti itu. Pemimpin itu, manusia yang telah selesai dengan dirinya sendiri. Begitu pelajaran tentang leadership.

Ketersiksaan diri itu sederhana sebenarnya.. Ingin menyenangkan semua manusia. Ini tak mungkin! Resiko kebjijakan kadang mengharuskan kita mengambil kata tegas tindakan lugas. Bersiap mental. Selama kamu ada di-rule aturan main yang disepakati bersama, ocehan itu tak perlu menjadi beban dirimu.

Pemimpin mengalah itu sangat berbeda dengan pemimpin kalahan. Beda jauh. Dia liat lentur. Bak pegas… Per yang semakin didorong kuat, membuat terpental yang mendorongnya. Ajeg di tempat. Tidak didorong, ya diam juga di tempatnya.

Alhasil, dia harus selalu berkorban. Bahkan harga dirinya. Motivasi terbesarnya adalah semua harus berjalan. Semua harus menuju satu titik. Kebersamaan itu adalah mengelola perbedaan. Motivasi manusia sangat berbeda. Ada yang agar namanya berkibar. Ada yang urusan perut harus terisi. Leader itu seorang conducters orkestra. Dia bisa meramu alat musik yang berbeda menjadi satu kesatuan nada irama yang serasi dan merdu.

Sampai di sini baru kau akan memahami arti makna terdalam “Keun Bae”.

Artikel ini telah dibaca 37 kali

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Baca Lainnya

Syukur: Solusi Kemunduran Ilmu Pengetahuan Umat Islam

14 Mei 2025 - 18:39 WIB

Kurban: Antara Kepekaan Sosial dan Manifestasi Ketakwaan

13 Mei 2025 - 16:38 WIB

Imam Al Ghozali dan Takfiri: Solusi dari Pandangan Takfiri Menurut Imam Al Ghozali

11 Mei 2025 - 14:29 WIB

Idul Fitri Membentuk Manusia yang Peduli

31 Maret 2025 - 17:17 WIB

Hikmah Hijrah Nabi

6 Juli 2024 - 17:12 WIB

Idul Fitri: Kembali Menjadi Mukmin Sejati

8 April 2024 - 23:25 WIB

Trending di Hikmah
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x