Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) Kota Bandung turut berpartisipasi dalam acara Al-Qur’an Braille Camp yang digagas oleh Ikatan Tuna Netra Muslim Indonesia (ITMI) Jawa Barat, Yayasan Komunitas Peduli Pelajar (KPP), dan SMP Tunas Unggul Pasir Impun sebagai fasilitator tempat dan pelaksana.
LPBINU Kota Bandung hadir untuk memberikan sosialisasi dan pengantar mengenai Pengurangan Risiko Bencana (PRB) kepada kelompok disabilitas, khususnya penyandang tuna netra. Ketua LPBINU Kota Bandung, Arief A menekankan pentingnya penerapan PRB bagi kelompok disabilitas yang termasuk dalam kategori rentan terhadap bencana selain anak-anak dan lansia.
“Dari perspektif keadilan ekologi, kelompok disabilitas dengan segala keterbatasan yang mereka miliki sangat minim kontribusinya terhadap kerusakan lingkungan dan perubahan iklim dibandingkan kelompok non-disabilitas. Namun, mereka justru memiliki kerentanan yang tinggi terhadap bencana akibat kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh pihak lain,” ujar Arief A.
Ia menambahkan bahwa dalam mewujudkan pendidikan inklusif, setiap warga negara termasuk kelompok disabilitas memiliki hak yang sama untuk mengakses informasi, termasuk pengetahuan terkait pengurangan risiko bencana.
Dalam sesi materi, LPBINU mencoba menggali informasi langsung dari kaum disabilitas terkait potensi kekuatan serta kendala yang mereka hadapi dalam menghadapi bencana, khususnya gempa bumi. Beberapa catatan penting yang berhasil disimpulkan antara lain:
- Respon Awal: Saat terjadi gempa, penyandang disabilitas lebih mudah menjalankan respon awal penyelamatan diri karena keterbatasan mereka membuat mereka tidak panik berlari, yang justru dapat membahayakan diri mereka sendiri.
- Titik Krusial Saat Evakuasi: Jika tidak ada orang non-disabilitas di sekitar, penyandang disabilitas harus memiliki cara komunikasi yang efektif untuk menarik perhatian. Salah satu usulan mereka adalah dengan selalu membawa peluit kecil.
- Ketersediaan Logistik: Jika tim evakuasi terlambat datang, penyandang disabilitas disarankan untuk selalu membawa makanan kecil dan terutama air minum.
Ketua Yayasan Komunitas Peduli Pelajar (KPP), Intan Juwita, menyatakan bahwa sebagai yayasan yang bergerak di bidang pendidikan alternatif untuk kelompok rentan, pihaknya berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut dengan pola kerja konsorsium dan pentahelix.
“Kami berharap setelah Lebaran akan ada kegiatan lanjutan yang lebih baik dan strategis dalam upaya penguatan kapasitas kelompok rentan dalam menghadapi ancaman bencana di Indonesia, mengingat negara kita berada di ‘ring of fire’ yang rentan terhadap berbagai macam bencana,” ujar Intan Juwita.
Yayasan KPP akan bertindak sebagai penyelenggara kegiatan, sedangkan lembaga-lembaga penggiat kebencanaan seperti LPBI NU, BPBD, dan MDMC akan menjadi pemberi materi kebencanaan. Adapun pembiayaan kegiatan akan melibatkan berbagai organisasi filantropi.
Acara ini berlangsung dengan hangat dan saling mengisi satu sama lain. Kegiatan ini masih sebatas pengantar dan akan terus dikembangkan lebih jauh untuk kelompok disabilitas lainnya, termasuk kelompok anak dhuafa.